Hari kemerdekaan negara Indonesia saat itu. Tiap daerah mempunyai berbagai cara untuk merayakan hari itu.
Di kampungku, seperti biasa, mengadakan beberapa lomba. Acara pun dimulai pukul 10 Pagi.
Jl. Elang dipenuhi oleh warga untuk meramaikan lomba. Lombanya pun bermacam-macam , juga untuk segala usia. Mulai dari anak anak, sampai orang tua. Acara lomba pun berlangsung sampai sore hari.
Para warga pun beristirahat sejenak. Karna di malam itu masih ada acara di kampung. Ternyata masih ada lomba, juga ada acara lain. Semua bergembira di acara tersebut. Menyanyi, menari bersama, makan jagung bakar bersama, itu pun berlangsung sampai malam.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Waktu nya anak anak tidur tentunya. Bapak bapak berjaga malam itu. Semacam ronda lah. Aku , Ibuku, kakakku, pulang kerumah. Kami capek , dan kami pun pergi tidur.
Tak lama setelah itu , aku terbangun. Aku lihat api diatas ku. Apa aku mimpi? . Ibu ku tidak ada di kamar. Kakakku pun juga. aku cari di dapur , kamar mandi, tidak ada. Pintu depan rumah terbuka. Aku penasaran. Di jam 2 pagi seperti ini, masih banyak orang di depan rumahku? apa acara belum selesai?
Aku pun keluar rumah. Aku kaget. Ternyata rumah tetangga sebelahku mengalami musibah. Kebakaran.
Aku lihat ibuku begitu bingung memanggil orang orang. Ternyata api pun merambat ke rumah kami. Bapak - bapak mengambil air, menyiram sebisanya, sebelum api lebih merambat lagi.
Tak lama kemudian, ada yang menjerit. "Allahuakbaaaar".Seorang wanita yang terjebak di lantai 2 rumah yang terbakar itu. Tiba tiba wanita itu lompat, dan jatuh kebawah. Dengan tubuh yang sudah hangus, dan tubuh nya melingkar. Jelas wanita tersebut nyawanya tidak tertolong. Setelah diselidiki, ternyata wanita itu adalah pembantu dari rumah tersebut.
Aku dan kakakku pun dibawa ke rumah pak RT. Kami tidur disana. Ibu ku lupa kalau aku masih di dalam rumah tadi. Mungkin ibu ku terlalu panik , sampai lupa pada anak kecilnya. Setelah diselidiki apa penyebab kebakaran tersebut, ternyata ada kemungkinan pemilik rumah teledor membuang rokok. Dan kemungkinan rokok itulah penyebab kebakaran itu.
Rumah kami jelas terbakar. Atap pun berlubang. Aku tidak sekolah hari itu. Banyak orang yang sibuk membereskan rumahku. Sedangkan rumah sebelah yang terbakar itu, sudah hancur lebur, tinggal puing puing bekas kebakaran.
Banyak orang yang memberikan kami santunan. Yah, musibah seperti ini tidak akan ada yang menduga kan?. Kerugian pun oleh ibuku tidak dihitung. Ibuku meng-ikhlaskannya. Menurutku hal ini sangat berat. Ibu ku single parent saat itu. Harus menanggung biaya banyak, rumah sudah seperti ini, juga mempunyai 2 orang anak, ibu ku pun juga masih kuliah saat itu.
Beberapa hari kami menumpang di rumah tetangga. Kadang pula juga kami menginap di rumah kakek dan nenek.Meskipun ibu ku jarang di rumah, tetapi ibu ku sangat ramah kepada warga sekitar. Mungkin itu pula yang membuat banyaknya kami mendapat santunan. Ibu ku pun tetap semangat bekerja sambi kuliah.
Kami tetap menetap di sukun, sampai rumah sudah dibenahi. Hal yang bisa kupelajari dari musibah ini, janganlah pernah menghitung kerugian atau pun hal yang telah hilang dari kita.Saat kita jatuh, terpuruk, bolehlah kita menangis dan sedih. Setelah itu kita harus bangkit, kalahkan problem di depan kita, maka kita akan menjadi lebih tegar dan kuat.
Aku belajar hal itu dari ibuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar