Taman Kanak-Kanak sudah aku lewati.
Saatnya aku menuju ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu aku meminta ibu untuk sekolah di tempat yang dekat rumah saja, agar tidak ada biaya transportasi , juga aku tau di daerah dekat rumah ku, sekolah nya pun mempunyai biaya yang murah + itu dulu SD kakakku.
Meskipun masih kecil, aku pun sudah mempunyai pikiran aku tidak mau terlalu banyak membebani orang tua. Tapi ibu ku berkata lain. Ibu ku ingin aku sekolah di madrasah , agar aku mendapatkan pelajaran agama yang banyak , dan menjadi anak yang sholeh. Kami pun berangkat untuk mendaftar.
Ternyata madrasah yang diinginkan ibu ku adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Malang. Sekolah tersebut mempunyai reputasi yang sangat baik. Termasuk sekolah madrasah terbaik, untuk saat itu se Jawa Timur. Aku berpikir, tentu biaya masuk ke sekolah tersebut tidaklah murah. Tapi ibuku tetap mengajakku pergi kesana, tanpa ragu. Aku dan ibuku sampai di tempat tujuan. Ibu ku mengurus pendaftaran, dan aku langsung tes di hari itu juga. Dan, tes pun dimulai.
Aku masih sangat ingat tes apa saja yang dilakukan disana. Tes membaca, alhamdulillah aku sama sekali tidak kesulitan. Tes mengaji, disuruh membaca Iqro' 2 , dan alhamdulillah saat itu aku sudah mencapai Iqro' 6. Tes menebak buah buahan, itu pun tidak sulit. Aku hanya salah satu buah, buah durian, aku menjawabnya nangka.
Yaah mungkin salah kecil, karena bentuk kedua buah itu hampir sama kan?
Tes yang paling sulit pun akhirnya datang. Tes engikat sepatu sendiri. Aku bingung saat itu. Sangat bingung. Karena sebelum masuk ruangan, sepatu disuruh melepas sendiri. Tentu aku bisa kalau melepasnya. Sekarang disuruh memasang sepatu sendiri? . Gawat , aku sama sekali tidak tahu caranya.
Teman disebelahku pun kesusahan , karena talinya tidak sesuai dengan simpul tali yang biasanya. Aku pun semakin gugup. Banyak yang tidak lolos tes tersebut. Padahal tes tersebut mempunyai nilai pengaruh yang besar, yaitu nilai mandiri.
Aku ambil sepatuku, aku pasang sepatu ku, dan Srekk, aku lulus tes itu dengan mudah. Kenapa? karena sepatu yang aku kenakan adalah sepatu tinggal pasang, bukan sepatu tali :D
Tiba saatnya siapa yang diterima, dan siapa yang tidak. Orang tua kami pun diberi sebuah amplop. Yang memberikan amplop memberitahukan kepada orang tua kami, "Silahkan membuka amplop, dan masuk ke ruangan yang tertulis di dalam amplop tersebut".
Ibu ku pun langsung masuk ke salah satu ruangan, yang saat itu masih sedikit orang yang masuk ruangan tersebut. Hei, ibuku belum membuka amplopnya -.-
Saat ibuku berbincang dengan yang duduk disebelahnya, baru ibuku tahu, ternyata ruangan itu untuk anak yang diterima. Ibu ku pun belum tahu, aku diterima apa tidak. Saat petugas di ruangan tersebut bertanya, bagaimana hasilku, ibu ku pun baru membuka amplop tersebut -.-
Dan untungnya isi amplop tersebut bertuliskan "Diterima"
Alhamdulillah, jika isi amplop tersebut berbeda, bagaimana wajah ibu ku ya -.-
Biaya SPP dan Uang gedung pun mahal. Aku tau hal itu sebelumnya. tapi ibuku tetap berusaha. Ya, ibuku meminta keringanan. Ibu pergi ke ruang kepala sekolah, dan akhirnya kami pun mendapat keringanan, dengan cara boleh mengangsur uang gedung tersebut. Kami pun sedikit lega akan hal itu.
Sukun, ke LandungSari. Pulang pergi harus kulewati tiap hari untuk pergi sekolah. Ibu ku pun menyewa antar-jemput , agar aku selamat, dan tentu aman. Biaya yang dikeluarkan ibu ku sangatlah banyak. Untuk seragam, buku, dan antar jemput tersebut. Bagaimana dengan sepatu dan tas?
Sepatu dan tas pun masih menggunakan yang lama, saat aku masih duduk di bangku TK. Tak apalah, masih bisa dipakai, disyukuri :)
Uang saku? aku tidak mempunyai uang saku. Ibu ku membelikanku jajan 100 an , dan aku bawa untuk bekal sekolahku. Aku tahu ibuku bekerja keras untuk menyekolahkanku disini.
Aku harus tetap semangat, harus berprestasi. Keterbatasan tak akan mematahkan semangatku. Saat aku berusaha keras, dan mendapat prestasi, keterbatasan pun akan hilang. Membuat orang tua bangga, itu lebih berharga , daripada mendapatkan uang sebanyak apapun :)
Hal itulah yang aku pelajari, saat aku memasuki Sekolah Dasar...

jangan jangan dulu pakek sepatu pantofel cewe :$
BalasHapus