Kamis, 29 Maret 2012

In Elementary School 2 -Dicipline For All Things-

Kelas 2 pun mulai aku jalani. Tidak ada perbedaan di teman kelas ku. Semua sama, tidak bertambah tidak berkurang. dari kelas 1D , aku dan teman teman naik kelas menuju 2D.Wali kelas kami bernama Pak Mansyur. Insya Allah, kalau saya mesih ingat, beliau mengajar kami semua pelajaran. Dahulu , di zaman kami, kelas 1 , 2  , dan 3 , kami hanya mempunyai 1 guru pengajar + itulah wali kelas kami. Saat itu masih sistem CAWU. Tiap cawu berkisar antara 4 bulan. Ujian akhir tiap Cawu diberi nama THB. Singkatan dari Tes Hasil Belajar.

Dari rumah pun aku berangkat. Kelas 2 , kelas baru, wali kelas baru, menungguku. Aku melihat bajuku. Apakah sudah rapi? , aku pun lihat isi tas ku apakah ada yang ketinggalan? . Aku suka kerapian. Baju ku pun, aku tidak suka kalau ada kancing yang terbuka. Kancing atas pun, aku kancingkan , meskipun tertutup dasi. Sabuk? tidak pernah lupa aku memakainya. Sepatu? meskipun solnya sudah hampir copot, aku tetap memakainya. Aku berusaha serapi mungkin. Tidak tahu kenapa, tapi aku sangat suka seperti itu :D

Foto saat aku masih kelas 2



Suatu saat, sesuatu pun terjadi. Buku untuk mencatat tugas harian, tidak aku bawa. Aku tiba tiba merasa gugup sendiri. Aku benar benar merasa bersalah. Wali kelas ku pun bilang , "tidak apa apa, sementara memakai buku lain dahulu, nanti disalin". Tetapi aku tidak mau. Aku merasa bersalah karena tidak membawa buku tugas berwarna merah itu. Aku pun bingung, guru ku pun menyuruhku untuk telepon orang tua ku, agar membawakan buku tersebut.

Aku tau, dirumahku tidak mempunyai telepon.Bahkan dirumahku tidak mungkin ada orang. Kakakku sekolah, Ibu ku jelas sedang bekerja. Tapi aku tetap bersikukuh untuk ingin mengambil buku yang ketinggalan itu. Aku tidak tahu kenapa, aku benar benar merasa bersalah dan janggal karena tidak membawa buku yang seharusnya aku bawa. Aku pun pergi ke ruang TU. Telepon pun siap aku gunakan. Tetapi aku harus menelpon siapa?

Aku pun gugup. Berkeringat. Guruku pun membantuku menelpon. Guruku bertanya, "berapa nomor telepon rumahmu nak?". Aku pun menjawab sekenanya. Lalu ada orang yang mengangkat telepon itu. Aku pun berbicara kalau buku ku ketinggalan. Tidak peduli siapa yang berbicara di telepon itu, yang penting aku sudah berusaha menghubungi orang , agar membawakan buku ku itu. Aku masih ingat, orang yang aku telpon rumahnya di daerah sawojajar. Aku pun jelas tahu kalau itu salah sambung. Tapi aku ingin meyakinkan guru ku. Kalau aku benar benar ingin berusaha membawa buku tersebut.

Setelah telpon, aku pun bilang kepada guruku. "Tidak ada yang bisa mengantar buku ku pak, ibuku kerja, tidak ada orang dirumah.". Aku pun menangis saat itu. Guru ku pun bertanya "Lalu siapa orang yang mengangkat telpon itu nak?". Aku pun bilang tidak tahu siapa itu, dan masih menangis. Guruku pun menyadari kalau telpon tadi bukanlah menuju orang tuaku. Guruku pun menenangkanku.Guruku pun bilang "kalau kamu memang ingin membawa buku itu, tidak apa apa kamu tidak membawa buku  itu hari ini.". Aku pun tetap tidak mau, karena aku benar benar merasa bersalah.

Guruku pun meminta ku lebih baik membeli buku baru.Tapi bagaimana? aku tidak punya uang. Uang saku ku 300 rupiah saat itu. Sedangkan buku itu berharga 1000 rupiah. Guruku pun tersenyum. Dia mengantarku ke koperasi. Dia membelikan buku tugas berwarna merah itu untukku. Saat memberikan buku merah itu, guruku pun berkata "Besok besok, jangan ketinggalan lagi ya nak,", dengan wajah tersenyum. Aku pun merasa sungkan dengan guruku,tetapi aku lega.

Saat pulang, aku pun menceritakan hal tersebut kepada ibuku. Ibuku pun tertawa mendengar ceritaku. Ibuku memberi uang untuk mengganti uang guruku untuk buku tersebut. Keesokan harinya, saat aku ingin mengembalikan uang itu ke guruku tersebut, guruku pun tersenyum, menaruh lagi uang yang aku berikan, ke saku baju seragamku, dan berkata "Harga buku kemarin sama sekali tidak mahal bagi bapak nak, tetapi rasa tanggung jawabmu yang sangat mahal bagi bapak". Aku pun tidak mengerti arti kata tersebut. Jelas saja, aku masih kelas 2 -.- . Tetapi aku benar benar ingat kata kata tersebut, sampai sekarang :)

Hal yang aku pelajari dari kejadian tersebut,

Disiplin untuk semua hal, tidak peduli dimanapun kita berada. Kita harus memposisikan diri sebaik mungkin.Tanpa dilihat siapapun, tanpa mengharapkan apapun, sebisa mungkin kita mentaati peraturan yang ada.

Tanggung jawab, untuk hal yang kita lakukan . Tak terkecuali untuk hal sekecil apapun :)

2 komentar:

  1. semoga tanggung jawab itu bisa bertahan sampai detik ini, dan bertahan selama hidup kamu ya ka =)

    visit juga ya http://areasinta.blogspot.com/ ^_^

    BalasHapus
  2. i hope so :D
    ok, i'll visit :)

    BalasHapus