Yap.. Kelas 3. Ini kisahku saat aku telah menjalani hidupku di kelas 3D. Seperti yang aku ceritakan di posting lalu, teman tidak ada yang berubah. Tidak bertambah, tidak berkurang. Kami hanya berpindah kelas saja. Kelas 3D berada di atas. Sekarang kami harus naik tangga dahulu untuk sampai ke kelas kami. Seingatku, kelas 3D berada di dekat kamar mandi.
Teman sebangku ku , bernama kemal. Dia putih , tinggi , dan baik :) . Dia selalu membagi apa yang dia beli saat istirahat, atau jikala dia tahu kalau aku tidak diberi uang saku. Oh iyaa, aku sudah tidak di sukun lagi. Aku berada di rumah kakek nenek ku, di daerah kidul pasar. Aku pun berganti antar jemput. Sebenarnya bukan antar jemput, melainkan jemput saja. Karena saat berangkat pagi, aku dan kakakku berangkat naik angkot LDG saat itu. Aku suka berangkat pagi. Jam 5 aku sudah berangkat sekolah. Padahal sekolah masuk jam 6 lebih 10 menit. Tapi aku tidak suka mengambil resiko dengan berangkat jam setengah 6. Pernah 1 kali aku mencoba berangkat jam setengah 6, sampai di sekolah pun jam 6 pas. Dan itu aku merasa aku sudah terlambat, karena sekolah sudah ramai.
Kemal, teman sebangkuku, dia sering menabung dan dimasukkan ke dalam tasnya. Kemal bilang , kalau ada uang jajan lebih, ia simpan untuk hal yang lebih berguna nantinya. Aku ingin seperti kemal yang rajin menabung seperti itu. Tetapi, sepertinya tidak bisa. Bagaimana bisa mendapat uang saku lebih? uang saku ku pun kadang ada, kadang tidak. Sebenarnya aku malu. Hampir tiap hari aku diberi kue oleh kemal. Tapi yaah begitulah, malu tapi mau :)
Teman teman sekelasku , saat istirahat selalu membicarakan tentang game. Yaah umur segitu, pastinya game lah yang jadi topik pembicaraan. Aku pun sering ke rumah sahabatku, Odi' . Dirumahnya, aku sering menginap. Bermain Playstation, meskipun aku hanya lihat dia bermain, tapi aku sangat senang. Aku masih ingat sampai sekarang, game apa saja yang dimainkan Odi' saat itu. Megaman X4,HarvestMoon,FFVIII,Gundam Battle Assault2,DragonBall, dan masih banyak lagi.
Aku pun mempunyai keinginan, kapan yaa aku mempunyai PS ku sendiri? . Aku pun meminta ibu ku. Tetapi ibu ku belum mempunyai uang yang cukup untuk membelikan aku PS tersebut. Ibu ku pun bilang, "Kalau nilai THB mu nilai 100 nya ada 5 , ibu belikan kamu PS". Menurutku hal tersebut berat bagiku. Aku siswa yang tidak begitu pintar. Aku pun menawar "Bagaimana kalau hanya dapet 100 nya 3 saja bu? aku minta SEGA saja ya?". Aku pun menurunkan keinginanku. Aku hanya meminta SEGA, yang harganya lebih murah. Hitung-hitung agar aku tidak terlalu membebani orang tuaku, meskipun bukan itu yang aku harapkan.
Aku pun mulai belajar giat. Yang seperti biasanya aku pulang sekolah, langsung bermain PS di rental dengan membayar 1000 rupiah per jam nya, uang itu pun aku tabung. Tiap hari aku diberi uang om ku 1000 rupiah, kalau aku mau makan siang. Sedangkan uang saku ku 1000 rupiah. 500 rupiah untuk naik angkot, dan 500 lagi untuk jajan di sekolah. Dan saat THB pun tiba. Sudah aku persiapkan matang matang untuk THB ini. Ibu ku saat itu ke surabaya. Tidak tahu untuk apa, yang jelas untuk dinas kesana selama 1 minggu.
Yang biasanya aku bermain saat pulang sekolah, tidak kulakukan. Aku belajar untuk THB esok. oh iya, sekolahku beda dengan yang lain. Jika SD umumnya, THB dilaksanakan selama 4 hari, sedangkan MIN, berlangsung selama 1 minggu. 1 Hari pun ada 2 pelajaran yang diujikan untuk kami. THB pun selesai. Hasil pun keluar, dan..
Alhamdulillah, usahaku tidak sia sia. Aku mendapat nilai 100 di Qur'an Hadist, Aqidah Akhlak, Fiqih, dan Bahasa Indonesia. 4 nilai 100 telah kudapatkan. Meskipun angan angan ku untuk mendapat PS tidak tercapai, tetapi aku tetap lega, aku mesih bisa mendapat SEGA, meskipun bukan itu yang aku harapkan. Aku pun telpon ibuku, dan ibu bilang besok ibu akan pulang. Aku tidak sabar menanti SEGA yang dibelikan ibu ku.
Keesokan harinya , ibu ku datang. Ibu membawa kresek hitam, sedang, dan sepertinya ada kotak didalamnya. Aku yakin itu SEGA yang menjadi perjanjian jika aku mendapat nilai 100 di 3 THB ku. Aku pun mengeluarkan kotak itu dari kresek hitam tersebut. Saat aku buka, itu bukan SEGA, melainkan PS yang aku inginkan. Aku pun bertanya "Lhoh bu, aku nilai 100 nya cuma 4, kok PS? bukan SEGA?" . Ibu pun menjawab "Lhoh, gamau? sini ibu balikin ke orang yang jual". Jelas aku senang menerima hadiah itu. Tetapi harganya mahal. 800.000 rupiah saat itu. Aku pun bertanya "uang ibu habis tah buat beli PS itu? PS kan mahal?". Ibu pun menjawab dengan nada agak keras "Jangan pernah berpikir berapa banyak ibu keluarkan uang untuk kamu nak. Ngerti?". Aku pun mengangguk.
Uang yang aku kumpulkan selama ini, aku kasihkan ke ibu ku. Yah meskipun cuma 50.000, tapi aku berikan ke ibuku. Siapa tahu bisa menutup biaya untuk membeli PS ini, pikirku.Tiap hari raya pun, uang yang aku dapatkan, selalu aku bagi setengahnya ke ibuku. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku merasa harus melakukan itu. Karena aku tahu, ibuku telah memberiku triliyun rupiah, untuk aku hidup sampai saat ini.
Hal yang aku pelajari dari kisah ku di kelas 3 awal ini,
Berangan-angan, selama kita merasa sanggup melakukannya, kejar terus mimpi itu, dengan usaha dan doa, semoga mimpi atau angan kita tercapai.
Aku akan selalu berusaha tidak memberatkan beban orang tuaku. Karena merekalah, aku bisa seperti ini sampai sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar