Kelas 4 semester 2. Inilah yang akan aku ceritakan kali ini.
Aku masuk kels 4B. Kelas 4B adalah kelas peringkat ke 2. Entah aku harus senang ataupun sedih. Setelah mendapat juara kelas di semester 1, dan aku berharap masuk di kelas yang sama dengan cewek idamanku, ternyata tidak. Nana tetap di kelas 4C. Kelas dengan peringkat tertinggi. Aku berpikir, kali ini aku harus lebih giat lagi untuk masuk ke kelas yang sama dengan Nana... Harus! . Suasana kelas pun terasa berbeda. Dari kelas ku yang dulu nya di kelas 4A, yang anaknya selalu ramai di kelas, teman teman yang seru, sering kesana kemari kalau di dalam kelas, tetapi di kelas 4B ini, tidak. Semua anak diam mendengarkan guru yang sedang mengajar. Bahkan tidak ada satupun anak yang berusaha membuat ramai kelas ini. Aku benar benar tidak terbiasa dengan suasana seperti ini. Aku tidak suka. Tugas, Ulangan pun, semuanya terasa berbeda. Individual. Kalau di kelas 4A kami sering berbagi, saling mengajari, disini sangat berbeda. Jadi inikah kelas peringkat 2?
Aku Merasa benar benar tidak sanggup...
Disaat semangat ku mulai turun, kakekku pun kembali mengingatkan aku. Kakekku bilang "Tidak ingin ke kelas peringkat tertinggi nak?". Aku pun menjawab "Susah kung, anak di kelas ku pintar pintar, aku tidak yakin bisa ke kelas peringkat tertinggi". Oiya , aku memanggil kakekku dengan sebutan YangKung(singkatan dari Eyang Kakung). Kakekku pun tersenyum, lalu mengajakku main catur. "Semua itu awalnya dari tidak bisa nak.. dari mudah, menuju sulit" Kata kakekku, sambil bermain catur denganku. "Dulu kelas 1, yangkung memberitahu cara bermain catur ini. Mulai dari kamu tidak bisa menang melawan yangkung, sampai sekarang pun kamu belum bisa mengalahkan yangkung :P" Dengan gaya meledek dan menggodaku. Ya, aku tidak pernah menang melawan kakekku dalam bermain catur. Aku diajari kakekku bermain catur sejak kelas 1 SD. Yangkung ku percaya, aku bisa bermain permainan strategi itu. Aku pun jadi lawan mainnya setiap saat. Dan tentunya, aku selalu kalah -,-
Tiap minggu, yangkung mengajakku berjalan jalan ke alun alun, atau ke pasar burung. Yangkung saat itu dikabarkan sudah memiliki penyakit asamurat, mungkin stroke. Aku pun disuruh ibuku untuk sering mengajak kakekku jalan jalan, agar cepat sembuh. Yangkung selalu tersenyum setiap saat. Menyapa orang orang di tiap jalan, dengan senyumnya dan guyonannya.
Suatu saat pernah terjadi. Kakakku marah digoda kakekku. Memang kakekku senang sekali menggoda cucunya. Kakakku yang marah, yang saat itu sedang memakan nasi kuning, menyemburkannya ke kakekku. Kakekku pun hanya tersenyum dan tertawa. Aku jelas marah dengan perbuatan kakakku. Kakakku dimarahi oleh nenekku.Tiba tiba, kakek membentak nenekku. Aku pun kaget, kenapa tiba tiba kakek marah? kakek bilang "Ini salahku, tidak usah kamu memarahi cucuku..". Kakakku pun semenjak itu takut untuk berbuat seperti itu lagi. Dan aku salut terhadap kakek. Dengan seperti itu pun, kakek tetap membela cucunya, dan kembali tersenyum dengan wajah ceria.
Kakekku pernah bilang. Selama kita senyum, kita akan merasa santai, dan beban pikiran kita akan berkurang. Dengan ingat kata kata tersebut, aku pun kembali semangat untuk meraih impian ku lagi. Untuk sekelas dengan cewek idamanku :) .
Nilai ulanganku pun naik, dan juga nilai nilai tugas :) .Aku pun memberi tahu kenaikan nilaiku, dan kakekku pun tersenyum. Lalu kakekku mengajakku main catur, seperti biasa. Dan siapa sangka, aku yang tidak pernah menang 1 kali pun melawan kakekku, sekarang aku menang.. Kebetulan apa ini?
kakekku pun hanya tersenyum dan menggodaku. Aku disuruh kakekku menyelesaikan membaca qur'an ku , agar aku khatam Al Qur'an. Aku tidak tahu apa alasannya, kakekku menemani aku mengaji sampai khatam. Memang saat itu aku sudah memasuki jus 30. Khatam Al Qur'an itu pun dirayakan dengan membuat nasi kuning. Yang kebetulan saat itu ada acara.
Permainan catur tersebut, ternyata menjadi permainan catur terakhirku dengan kakek. Kakek jatuh sakit, dan masuk rumah sakit. Terkadang aku menjenguknya. Badan kakek sudah lemas, kakek di infus. Aku tidak tahu kakek sakit apa, yang jelas ini sudah benar benar parah. Dalam keadaan sakit seperti itu, kakek masih bisa bercanda dengan tanteku yang menjaga kakek disana. Masih bisa tersenyum, bersenda gurau. Ibu ku pun melarang kakek seperti itu, tetapi kakek tetap saja seperti itu. Memang benar benar kakekku orang yang usil -.-
Suatu hari.
Aku mendapat nilai 100 di ulanganku. Aku pun pulang dengan gembira. Sesaat sebelum sampai rumah, aku lihat keadaan gang rumahku sangatlah ramai. Ada orang orang mengangkat meja, memasang terop, aku pun berpikir, ada apa ini? Tiba tiba tetanggaku mengajakku ke rumahnya. Aku diberi makan, disuruh ganti baju. Aku pun makin curiga. ada apa ini? Aku pun bisa menyimpulkan sendiri. Ternyata kakekku sudah tiada :(
Akhirnya aku memaksa pulang. Aku melihat banyak orang yang berasa di rumahku. Aku pun diberi tahu keluargaku. Belum sampai 15 menit kabar kakekku telah tiada disebarkan, warga kampung langsung tanggap dengan memasang terop, membantu mengangkat, menyiapkan segala macam yang dibutuhkan untuk jenazah. Kami sekeluarga kaget akan hal itu. Ada salah satu tetangga yang bilang kepada kami, "Beginilah,memang Bpk. Mat sangat baik kepada sekitar. Kami pun melakukan hal yang sama". Aku pun masuk ke dalam rumah.
Kakekku.. Aku melihat kakekku yang sudah tiada. Senyumnya, menurutku tidaklah hilang dari wajahnya. Aku menahan tangis ku. Aku berusaha tersenyum. Berusaha seperti apa yang diajarkan kakekku.
Aku pun ikut mengantar jenazah kakek ke liang lahat. Disaat itulah aku tidak kuat menahan tangisku. . .
Aku belajar hal yang sangat besar dari kejadian yang aku alami ini.. dan tentunya pelajaran ini aku dapat dari almarhum kakekku..
Tetap tersenyum di segala kondisi.. baik itu sedih, terpuruk, susah, sakit, bahkan sampai menjelang ajal tiba :)
Peduli terhadap lingkungan, baik kepada siapa saja, menyapa dan sertakan senyum kepada siapapun :)
Terima Kasih kakek, do'a kami tidak akan pernah henti untukmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar